(santri) Para
pelajar tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaatnya,
tanpa mau menghormati ilmu, ahli ilmu dan guru.
Karena ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang telah berhasil mereka ketika
menuntut ilmu sangat menghormati tiga hal tersebut. Dan orang-orang yang tidak
berhasil dalam menuntut ilmu, karena mereka tidak mau menghormati/memuliakan
ilmu dan gurunya. Ada yang mengatakan bahwa menghormati itu lebih baik daripada
mentaati. Karena manusia tidak dianggap kufur karena bermaksiat. Tapi dia
menjadi kufur karena tidak menghormati/memuliakan perintah Allah.
Sayyidina Ali karramallahu wajhah berkata, "Aku adalah sahaya
(budak) orang yang mengajarku walau hanya satu huruf, jika dia mau silahkan
menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai
budaknya."
Ada sebuah syair yang berbunyi, "Tidak ada hak yang lebih besar kecuali
haknya guru. Ini wajib di pelihara oleh setiap orang Islam. Sungguh pantas bila
seorang guru yang mengajar, walau hanya satu huruf, diberi hadiah seribu dirham
sebagai tanda hormat padanya. Sebab guru yang mengajarmu satu huruf yang kamu
butuhkan dalam agama, dia ibarat bapakmu dalam agama."
Imam Asy-Syairazy berkata, "Guru-guruku berkata, "Barangsiapa yang
ingin anaknya menjadi orang alim, maka dia harus menghormati para ahli fiqih.
Dan memberi sedekah pada mereka. Jika ternyata anaknya tidak menjadi orang
alim, maka cucunya yang akan menjadi orang alim."Termasuk menghormati guru
ialah, hendaknya seorang murid tidak berjalan di depannya, tidak duduk di
tempatnya, dan tidak memulai bicara, kecuali ada ijinnya.
Hendaknya tidak banyak bicara di hadapan guru Tidak bertanya sesuatu bila guru
sedang capek/bosan. Harus menjaga waktu. Jangan mengetuk pintunya, tapi
sebaliknya menunggu sampai beliau keluar.
Alhasil, seorang santri harus
mencari kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan ia murka,
mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama, karena tidak boleh
taat pada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah. Termasuk menghormati guru
adalah menghormati putra-putranya, dan orang yang ada hubungan kerabat
dengannya.Guru kami Burhanuddin, pengarang kitab Al-Hidayah, bercerita bahwa
salah seorang pembesar negeri Bukhara duduk dalam suatu mejelis pengajian, di
tengah-tengah pengajian, dia sering berdiri. Lalu oleh teman-temannya ditanya
mengapa berbuat demikian. Dia menjawab, sungguh putra guruku sedang bermain di
jalan, oleh karena itu jika aku melihatnya aku berdiri untuk menghormatinya.
Al Qadhi Fahruddin adalah seorang imam di daerah Marwa yang
sangat dihormati oleh para pejabat negara
Beliau berkata, "Aku mendapat kedudukan ini karena aku
menghormati guruku, Abi Yazid Addabusi. Aku selalu melayani beliau, memasak
makanannya, dan aku tak pernah ikut makan bersamanya.".Pada suatu hari
Imam Halwani pergi dari Bukhara, bermukim di sebuah desa selama beberapa hari,
karena ada satu masalah yang beliau hadapi, kemudian semua muridnya menjenguk
beliau, kecuali yang bernama Abu Bakar. Lalu ketika bertemu Abu Bakar beliau
bertanya, "Mengapa kamu tidak ikut menjengukku?" Dia menjawab,
"Maaf guru, saya sibuk melayani ibuku." Lalu beliau berkata, "Semoga
kamu diberi panjang umur, tapi kamu tidak akan diberi ketenangan dalam
mengaji." Kenyataannya kata-kata guru tersebut betul-betul terjadi. Abu
Bakar tinggal di desa sepanjang waktunya.Oleh karena itu seorang santri tidak
boleh menyakiti hati gurunya, karena belajar dan ilmunya tidak akan diberi
berkah. Kata seorang penyair, "Sungguh guru dan dokter keduanya tidak akan
menasihati kecuali bila dimuliakan. Maka rasakan penyakitmu jika kamu membantah
pada dokter, dan terimalah kebodohanmu bila kamu membangkang pada guru."Dikisahkan
bahwa khalifah Harun Ar-Rasyid mengirim putranya kepada ustadz Ashmu'i supaya
diajari ilmu dan akhlak yang terpuji. Kemudian pada suatu hari Harun Ar-Rasyid
melihat Ashmu'i sedang wudhu membasuh kakinya dengan air yang dituangkan oleh
putra khalifah. Melihat hal itu, Harun Ar-Rasyid berkata, "Aku kirim
anakku kepadamu supaya kamu ajari ilmu dan budi pekerti, lalu mengapa tidak
kamu perintah dia untuk menuangkan air dengan tangan kiri supaya yang kanan
bisa membasuh kakimu?"
Termasuk menghormati ilmu ialah menghormati kitab. Seorang santri dilarang
memegang kitab kecuali dalam keadaan suci. Imam Syamsul A'imah Al Halwani
berkata, "Aku memperoleh ilmu ini karena aku menghormatinya. Aku tak
pernah mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci." Imam Sarkhasi pernah
sakit perut, namun beliau tetap mengulang-ulang belajarnya, dan berwudhu,
sampai tujuh belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar kecuali
dalam keadaan suci. Ilmu itu adalah cahaya, dan wudhu juga cahaya. Sedangkan
cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu.
Para
penuntut ilmu dilarang meletakkan kitab di dekat kakinya ketika duduk bersila.
Hendaknya kitab tafsir diletakkan di atas kitab-kitab lain, dan hendaknya tidak
meletakkan sesuatu di atas kitab.
Guru kami, Burhanuddin bercerita bahwa ada seorang ahli
fiqih meletakkan wadah tinta di atas kitab, lalu beliau berkata kepadanya,
"Anda tidak akan memperoleh manfaat dari ilmumu.Imam Qadhikhan berkata,
"Jika perbuatan itu (meletakkan wadah tinta di atas kitab) tidak bermaksud
meremehkan kitab tersebut, maka tidak apa-apa, tapi sebaiknya diletakkan di
tempat lain."Santri harus bagus dalam menulis kitabnya. Tulisannya harus
jelas. Tidak terlalu kecil sehingga sulit dibaca.
Abu
Hanifah pernah melihat muridnya yang tulisannya sangat kecil-kecil sehingga
tidak jelas, lalu beliau menegurnya, "Jangan terlalu kecil dalam menulis,
karena jika kamu sudah tua, pasti menyesal. Dan bila kamu mati, kamu akan
dimaki orang yang melihat tulisanmu." Yakni jika kamu sudah tua dan pandangan
matamu sudah lemah, maka kamu akan menyesali perbuatanmu itu.Seharusnya kitab
itu dibentuk persegi empat, begitu yang biasa dikerjakan oleh Imam Abu Hanifah.
Supaya mudah dibawa dan dibaca.Seharusnya tidak memakai tinta merah dalam
menulis kitab, karena hal itu kebiasaan para filosuf, bukan kebiasaan ulama
salaf. Bahkan guru kami ada yang tidak mau memakai kendaraan berwarna
merah.Termasuk menghormati ilmu adalah menghormati teman dan orang yang
mengajar. Para santri harus saling mengasihi dan menyayangi, apalagi kepada
guru, supaya ilmunya berfaedah dan diberkati.Hendaknya para penuntut ilmu
mendengarkan ilmu dan hikmah dengan rasa hormat, sekalipun sudah pernah
mendengarkan masalah tersebut seribu kali.Ada yang berkata, "Siapa yang
tidak menghormati/memperhatikan satu masalah, walaupun ia pernah mendengarnya
seribu kali, maka dia bukan termasuk ahli ilmu."Seorang santri tidak patut
memilih bidang ilmu sendiri, tapi harus menyerahkannya kepada guru. Karena guru
lebih tahu mana ilmu yang cocok dengan watak/kencerungan muridnya.Syaikh
Burhanul Haqqi berkat, "Pada zaman dahulu para santri itu menyerahkan
persoalan mengajinya kepada guru mereka, dan ternyata mereka berhasil meraih
cita-citanya." Berbeda dengan sekarang para murid selalu memilih pengajiannya
sendiri, akibatnya mereka tidak berhasil meraih ilmu yang
dicita-citakan.Dikisahkan bahwa Muhammad bin Ismail Al Bukhari, memulai mengaji
dari bab shalat di hadapan Muhammad bin Al Hasan. Lalu gurunya itu berkata,
"Pergilah dan belajar ilmu Hadits." Gurunya berkata begitu karena
gurunya tahu tabiat dan kecenderungan Imam Bukhari. Dan dia pun menuntut ilmu
Hadits, akhirnya dia menjadi pelopor seluruh imam ahli hadits.
Santri tidak patut duduk dekat gurunya ketika mengaji kecuali darurat. Tapi
sepatutnya ada jarak antara santri dan guru, kira-kira sepanjang busur panah,
hal ini semata-mata untuk menghormati guru.
Santri
harus meninggalkan akhlak yang tercela, karena akhlak tercela itu ibarat anjing
yang samar. Rasulullah saw bersabda, "Malaikat tidak mau memasuki rumah
yang ada gambar atau anjing." Padahal manusia belajar itu melalui
perantara malaikat.Mengenai akhlak yang tercela ini bisa dilihat dalam
kitab-kitab yang menerangkan akhlak. karena kitab ini tidak memuat hal itu.
Jadi para santri harus menjauhi akhlak yang tercela, lebih-lebih sifat sombong.
Seorang penyair berkata, "Ilmu adalah musuh orang yang congkak/sombong,
sebagaimana banjir menjadi musuh dataran tinggi."Dikatakan:
"Kemuliaan itu datang bukan karena usaha, tapi karunia dari Allah."
Banyak budak yang menempati orang merdeka (mulia), dan banyak pula orang
merdeka yang menempati kedudukan budak (hina)